Filosofi Kolektivitas dan Agresivitas Nir Sosok Pemimpin?

Keputusan PSS Sleman mengadakan uji tanding dengan klub Liga 1 adalah cara berani tim pelatih dan manajemen menjadi risk taker bagi kekecewaan Sleman Fans. Hal tersebut menjadi kenyataan pahit bagi suporter PSS yang sebelumnya merasakan trofi pra musim Coppa Sleman 2018. 

Tiga kali kekalahan beruntun pada laga uji coba pra musim menjadi pemantik protes keras Sleman Fans di lini masa sosial media yang berisi tulisan ungkapan kekecewaan. Sebuah kewajaran bagi fans yang menginginkan hasil terbaik bagi tim kesayangannya. 

Inilah langkah berani yang diambil oleh PSS, paska kemenangan Coppa Sleman mereka meninggalkan zona nyaman yang sudah dikantongi di awal tahun ini. Tidak mau berpuas diri dengan hasil awal tahun, Super Elang Jawa bergerak cepat mengadakan laga uji coba dengan tiga tim mumpuni penghuni Liga 1, Persebaya Surabaya, PSMS Medan dan Bhayangkara FC. 

Jika kita lihat dari 'hasil' yang diraih inilah letak 'kesalahan' PSS, ketika hasil manis awal tahun 2018 sedang dinikmati, tiba-tiba membuka lembar kenyataan bahwa melawan tim mumpuni semua kekurangan terkuak dan kalah menjadi hasil mutlak. Dari sinilah hikmah tersembunyi muncul, bersyukur bahwa mereka memberikan warning kepada Hisyam Tolle dkk untuk segera bergerak cepat menambal lini pemain yang dianggap menjadi lubang kelemahan dan membangun filosofi tim yang belum kuat menjadi dasar pondasi sebuah tim. 

Sosok sentral jenderal lapangan yang belum ada di tim ini menjadi salah satu faktor belum berjalannya filosofi Herkis membangun tim menjadi lebih kuat. Sosok pemersatu tim yang mampu menjadi pemimpin dalam kolektivitas serta agresivitas adalah kunci utama. Inilah pos pemain yang sangat krusial harus disegerakan untuk dihadirkan menjadi sosok sentral tim yang mampu mengatur alur pertandingan hingga peredam emosional serta pengangkat psikologis tim ketika tensi laga memanas. 

Catatan menarik dari beberapa tiga laga uji coba terakhir, coach Herkis tidak pernah mengganti kuartet lini pertahanan selama satu pertandingan penuh. Ia baru akan mengganti komposisi lini belakang di pertandingan berikutnya. Hal ini dilakukan agar tim pelatih dapat mengevaluasi penampilan pemain secara menyeluruh mengingat lini belakang PSS saat ini masih menjadi salah satu titik lemah.

Selain itu Herkis selalu memilih kapten yang berbeda. Kontra Persebaya Surabaya, AH. Tole ditunjuk sebagai kapten, juru gedor senior I Made Wirahadi menjadi kapten versus Bhanyangkara FC, dan terakhir Ega Rizky didaulat sebagai kapten saat menghadapi PSMS Medan. 

Walau belum mendapatkan sosok ideal kapten tim, coach Herkis menunjuk posisi gelandang tengah memiliki kesempatan besar menjadi kapten tim. Menarik ditunggu siapakah sosok yang akan mengisi pos leader dalam tim. Masih ada waktu mempersiapkan tim dengan matang sebelum kompetisi dimulai.

Herkis pernah mengatakan Ia bukan pesulap yang bisa membuat tim bagus dalam sekejap. Tim ini sedang berproses, bersyukur tiga kekalahan didapat ketika masih dalam masa pra musim. Nikmati, kawal dan kritisi proses ini hingga tujuan utama kita bersama lolos Liga 1. (mf/arl/pss-sleman.co.id)

Berita Terkait

PSS U17 Jalani Seleksi Pemain Songsong Piala Suratin 2018

Saturday, 26 May 2018

Seleksi pemain dipantau langsung oleh Lafran Pribadi yang kembali ditunjuk…

PSS Agendakan Safari Ramadan dan Laga Uji Coba

Thursday, 24 May 2018

Memasuki latihan perdana, manajemen dan pelatih kepala Seto Nurdiyantoro sudah…